Pergumulan Mengerti Kehendak Allah
Penulis : Sutjipto Subeno
Hidup adalah suatu realita. Tetapi, apakah hidup kita hanya terfokus pada realita di depan kita? Seringkali kita terjebak pada suatu realita, tanpa kita menyadari realita di belakang realita. Dasar berpijak apakah yang bisa kita miliki agar kita bisa terlepas dari realita semu? Jika kita telah mengetahui realita yang sebenarnya, apa yang harus seharusnya menjadi respon kita?
Hidup penuh dengan pergumulan. Jika pergumulan kita terbatas pada melihat permasalahnya dan tidak pada sumber permasalahannya, pergumulan itu tidak akan kunjung habis. Kunci apakah yang harus kita miliki agar pikiran kita yang terbatas bisa melampaui realita dan menerobos ikatan-ikatan yang mengunci pikiran kita?
Buku Tafsiran Kitab Habakuk yang berjudul "Pergumulan Mengerti Kehendak Allah" ini memiliki keunikan tersendiri. Bagian-bagian dari Kitab Habakuk yang memiliki keunikan tersendiri ini dipaparkan dengan bahasa narasi yang mudah dipahami. Sementara itu ide yang tertuang dalam Kitab Habakuk, dibawa ke dalam konteks kita pada masa kini, sehingga kita bisa menggali pengalaman Habakuk. Pergumulan dan kemenangan Habakuk dalam meresponi kehendak Allah itu harus menjadi bagian dalam kehidupan kita di masa kini, harus juga kita lalui, sehingga pergumulan kita dapat kita menangkan sesuai dengan kehendak Tuhan.
Bab kedua dari buku ini memang sedikit mengulas konsep filsafat tentang Allah yang 'tak terjangkau' oleh pikiran manusia yang terbatas. Namun demikian, bagian ini mempunyai kesinambungan dengan keseluruhan isi buku. Jika kita salah mengerti dan tidak memahami bab ini, maka kita akan terjatuh pada konsep Agnotisisme yang mengatakan bahwa Allah sama sekali tidak mungkin dipahami oleh manusia.
Singkat kata, buku ini patut dimiliki oleh setiap orang Kristen yang selalu hidup dalam pergumulan. Melalui buku ini, kiranya kita dapat belajar untuk tidak hidup di bawah realita atau melarikan diri dari realita, melainkan bisa mencapai pengertian yang sebenarnya dalam membedakan realita sejati dengan realita semu, sehingga kehidupan kerohanian kita bisa berjalan secara stabil dan tidak diombang-ambingkan oleh berbagai kekuatiran akibat tidak mengerti realita yang sejati itu. Kiranya Tuhan memberkati kita. Amin!
(agus)