Tetaplah Berdoa ( I Tes. 1 : 17 )
Dengan tetap bertekun dalam berdoa, tentu kita memiliki kerinduan untuk berdoa bagi bangsa dengan lebih mendetail. Maka redaksi mempersiapkan profil anak-anak Tuhan yang takut akan Tuhan. Mereka sudah terbukti konsisten dan selalu menyuarakan serta memperjuangkan kebenaran dan keadilan di negara Indonesia.
Prof. Dr. J.E. SAHETAPY, SH, MA - Guru Besar Univ. Airlangga
Beliau adalah salah satu aset penting bangsa dan juga untuk umat Kristiani. Sebagai pakar hukum, beliau sudah banyak berkecimpung dalam dunia pendidikan, yaitu sebagai Dosen (1960) dan Guru Besar (1979) S1, S2 dan S3 di Univ. Airlangga, Surabaya, Guru Besar Luar Biasa S2 UI, Jakarta (sejak 1981), dan UNDIP Semarang (sejak 1982), serta Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Petra (sejak 1986) dan juga di berbagai tempat lainnya.
Menurut pria berusia 64 tahun yang pernah menjadi dosen kehormatan di Universitas Leiden, Belanda dan Universitas Leuven, Belgia ini, hukum di Indonesia kini menganut sistem hukum rimba. Demikianlah kutipan wawancara salah satu media massa yang menjadi salah satu contoh bahwa beliau diakui di kalangan masyarakat sebagai ahli hukum dan orang yang berpikiran kritis. Beliau juga selalu membagikan beban pelayanan berupa visi bagi gereja, seminar dalam Explo dan FKKI.
Mari kita berdoa agar beliau tetap dapat menjadi teladan dan selalu menanamkan visi Kristiani bagi gereja, generasi muda dalam rangka memasuki abad ke-21.
Sumber: Majalah Tempo dan berbagai sumber lainnya.
Dr. Med. PAUL TAHALELE - Ketua FKKI
Dokter 'serbabisa' ini dalam dua tahun terakhir, sering mondar-mandir dengan sejumlah tokoh agama. Bermula dari terjadinya pembakaran gereja di Situbondo, Oktober 1996, Paul Tahalele tergerak. Bersama para agamawan, Ketua Forum Komunikasi Kristen Indonesia (FKKI) ini menyertai KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berkeliling ke pondok pesantren.
Pria kelahiran Ambon 50 tahun lalu ini yakin bahwa para bapak pendiri bangsa memahami realitas keberagaman bangsa kita. Itu sebabnya mereka menggagaskan semboyan "Bhinneka Tunggal Ika". Beliau justru risau dengan munculnya dikotomi mayoritas-minoritas. "Saya mempertanyakan mayoritas apa dan minoritas yang mana, sebab tak ada sepotong pun pernyataan dalam UUD 1945 dan semua produk hukum yang menyebut soal dikotomi itu," tegasnya.
Dari latar belakang sebagai seorang akademis, terlebih lagi yang berprofesi dokter, memungkinkan beliau untuk berkomunikasi dengan masyarakat bawah. Beliau lulus sebagai dokter dari Fakultas Kedokteran Unair pada tahun 1975. Tahun 1981, beliau lulus sebagai dokter spesialis bedah umum. Selanjutnya, pada tahun 1982-1985 beliau belajar bedah jantung dan pembuluh darah di Jerman. Keahlian spesialis diperolehnya lagi tahun 1987 di Osaka, Jepang, di bidang bedah jantung anak. Gelar doktor (Dr. med.) diperolehnya pada tahun 1984 di Universitas Erlangen, Nuernberg, Jerman, pada Program Disertationarbeit.
Mari kita berdoa agar beliau terus dipakai Tuhan dalam mengkomunikasikan kebenaran, baik kepada masyarakat bawah maupun masyarakat menengah ke atas, bahkan pemerintah.
Sumber: Harian Kompas dan Surabaya Post
Drs. CHRISTIANTO WIBISONO- Direktur PDBI
Bagi teman-teman yang sering membaca Suara Pembaruan tiap hari Senin, tentu sudah tidak asing lagi dengan analisa beliau. Sebagai pendiri dan ketua Pusat Data Business Indonesia(PDBI), beliau memberikan pengamatan kebijakan ekonomi yang konsisten. Perjuangannya untuk mengkoreksi pemerintahan untuk selalu takut akan Tuhan tidak pernah henti. Walaupun pada peristiwa Mei rumah anaknya dijarah dan dibakar. Ia bahkan pernah dituntut oleh mantan Presiden Soeharto, ketika membeberkan bukti kekayaan Soeharto.
Sejak kecil beliau dididik dalam lingkungan Katolik, tapi beliau baru menjadi Kristen Protestan ketika menjadi mahasiswa. Beliau banyak bergaul dengan lingkungan profesi yang Muslim. Pengalaman berharga yang beliau miliki adalah menjadi wartawan selama 20 tahun. Ia juga adalah salah satu pendiri Majalah Tempo. Dalam perjalanan hidupnya, beliau memiliki banyak relasi, mulai dari aktivis Angkatan '66 sampai zaman reformasi saat ini. Aktivitas politik beliau saat ini adalah menjadi anggota Majelis Pertimbangan Partai Amanat Nasional.
Mari kita berdoa agar beliau menjadi saksi di kalangan elite pemerintahan dan tetap berani menyuarakan kebenaran dan keadilan.
Sumber Harian Suara Pembaruan
ESTER I.INDAHHYANI JUSUF, SH- Ketua Solidaritas Nusa Bangsa
Mungkin bagi kebanyakan warga keturunan, diskriminasi ras merupakan hal yang biasa atau lumrah, bahkan terkesan pasrah. Diskriminasi sering terjadi pada kehidupan sehari-hari hingga pada puncaknya, yaitu kasus Perkosaan Massal, 13-14 Mei 1998.
Ibu muda berumur 27 tahun lulusan Fakultas Hukum UI ini memiliki pemikiran lain. "Sesungguhnya setiap manusia sama kedudukannya di hadapan Tuhan Sang Pencipta". Hal inilah yang menjadi latar belakang beliau membentuk sebuah organisasi yang bekerja secara sistematis dan profesional, bernama Solidaritas Nusa Bangsa pada tanggal 5 Juni 1998.
Visi organisasi yang didirikannya ini adalah terciptanya budaya masyarakat bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan dan persamaan serta martabat manusia. Banyak yang telah dikerjakan beliau sebagai ketua, yaitu: mendesak pertanggungjawaban pemerintah, mendesak pemerintah untuk menyusun UU Anti Diskriminasi Ras, membentuk racism watch, dll. Dalam rangka memasyarakatkan pentingnya penghapusan diskriminasi ras, maka beliau mengadakan diskusi, debat, seminar, baik di umum maupun di gereja-gereja. Namun perjuangannya belum membuahkan banyak, terbukti tidak ada tindakan berarti yang dilakukan pemerintah.
Mari kita berdoa agar beliau memiliki kekonsistenan dan keberanian dalam memperjuangkan penghapusan diskriminasi ras.
Sumber: Http:\\www.solidaritas.org dan Tabloid Detik